Tahlil dalam Islam

Telah kita maklumi bersama bahwa acara tahlilan merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh keumuman masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kematian. Secara bersama-sama, berkumpul sanak keluarga, handai taulan, beserta masyarakat sekitarnya, membaca beberapa ayat Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan disertai doa-doa tertentu untuk dikirimkan kepada si mayit. Karena dari sekian materi bacaannya terdapat kalimat tahlil yang diulang-ulang (ratusan kali bahkan ada yang sampai ribuan kali), maka acara tersebut dikenal dengan istilah “Tahlilan”.
Acara ini biasanya diselenggarakan setelah selesai proses penguburan (terkadang dilakukan sebelum penguburan mayit), kemudian terus berlangsung setiap hari sampai hari ketujuh. Lalu diselenggarakan kembali pada hari ke 40 dan ke 100. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun dari hari kematian si mayit, walaupun terkadang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Entah telah berapa abad lamanya acara tersebut diselenggarakan, hingga tanpa disadari menjadi suatu kelaziman.
Namun, memang tak dapat dimungkiri kalau acara tahlilan ini menuai banyak kontroversi antara pro dan kontra. Sebagai seorang muslim, semua pro dan kontra harus dikembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Sikap seperti inilah yang sepatutnya dimiliki oleh setiap insan muslim yang benar-benar beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Allah subhanahu wata’ala juga telah berfirman yang artinya:
“Maka jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Ar Rasul (As Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang demikian itu lebih utama bagi kalian dan lebih baik akibatnya.” (An Nisaa’: 59)
Tahlil yang biasa kita lakukan dengan tujuan untuk mendo’akan orang yang sudah meninggal dunia, sebenarnya bermula dari perjuangan sunan-sunan Walisongo , yang mana pada saat itu adat istiadat orang jawa, ketika ditinggal mati oleh sanak keluarganya dilakukan ritual selama tujuh hari berturut-turut dan hari ke empat puluh setelah kematian, mereka (orang jawa ) mempercayai bahwa ritual ini dapat menebus dosa-dosa mayit atau paling tidak bisa menambah kebaikan-kebaikannya, namun jika dilihat dari kacamata agama islam, sebenarnya dalam ritual tersebut malah menimbulkan mafsadah (kerusakan) yang luar biasa, karena di isi dengan judi-judian dan minum-minuman keras, yang mana hal ini jelas dilarang oleh agama, diluar kesadaran mereka.
Dari peristiwa inilah, maka sunan-sunan WaliSongo tergugah untuk merubah adat istiadat mereka dengan ritual yang islami, hanya saja oleh beliau-beliau disadari bahwa adat semacam ini tidak mungkin dirubah secara total, maka muncullah satu pemikiran untuk memanfaatkan tujuh hari atau lainnya, dari apa saja yang telah mereka adatkan, dengan diisi tahlil bersama, sebagaimana yang telah kita rasakan saat ini.
Namun, dalam tahlil ini biasanya terdapat sajian makanan untuk para tamu yang datang. Memang menyajikan hidangan untuk tamu merupakan hal yang terpuji bahkan dianjurkan tetapi bila dihidangkan dalam acara tahlilan oleh keluarga si mayit maka memiliki hukum tersendiri. Jarir bin Abdillah radhiAllahu ‘anhu–salah seorang sahabat Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam– berkata: “Kami menganggap/ memandang kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit).” (H.R Ahmad, Ibnu Majah dan lainnya).
Malah yang semestinya, disunnahkan bagi tetangga keluarga mayit yang menghidangkan makanan untuk keluarga mayit, supaya meringankan beban yang mereka alami. Sebagaimana Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam dalam hadist yang artinya:
“Hidangkanlah makanan buat keluarga Ja’far, Karena telah datang perkara (kematian-pent) yang menyibukkan mereka.” (H.R Abu Dawud, At Tirmidzi dan lainnya)
Semoga kita dapat mengambil pembelajaran dari pembahasan tersebut. Wallahu’alam.

Categories: The reflections | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Tahlil dalam Islam

  1. Anto

    Bagus, artikel yang bermanfaat.
    Ajaran Islam adalah ajaran yang mudah, kadang malah justru diperberat oleh pemeluknya sendiri. Dalam ajaran Islam yang sebenarnya, keluarga mayitlah yang justru diberi makanan karena sedang tertimpa musibah. Tetapi pada zaman sekarang sebaliknya, justru keluarga mayit yang terbebani untuk memberikan makanan kepada tamu. Bahkan tidak jarang mereka sampai harus berhutang jutaan hanya untuk melakukan acara yang tidak diperintahkan dalam ajaran Islam ini. Jika tidak mengadakan acara seperti ini, mereka akan digunjing. Masyarakat tahunya cuma makan sate, soto, kare, gule; dan minum es buah, es dhawet, kolak, dsb; tetapi giliran saat ada seruan adzan/panggilan untuk sholat pura-pura kagak denger.

    • iya..budaya seperti ini yg memang harus segera dihilangkan dari masyarakat. maka dari itu bisa kita mulai dari diri kita sendiri & org2 disekitar kita untuk mengubahnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: