Ketika Kualitas Pendidikan Indonesia Dipertanyakan

Berbicara mengenai kualitas pendidikan, hal ini sudah dibahas berlarut-larut oleh beberapa pihak terutama kalangan akademisi. Namun yang dipertanyakan adalah apakah ada perubahan signifikan terhadap kualitas pendidikan sekarang? Tentu ada yang mengatakan ada. Lalu, apa sebenarnya standart keunggulan pendidikan Indonesia?

Sudah cukup banyak di Indonesia sekolah dan universitas masuk kriteria memiliki sarana bagus, kurikulum pelajaran mencontoh negara maju dan jumlah pengajar dengan gelar bergengsi lulusan luar negeri, sehingga nampaknya pendidikan di Indonesia sudah unggul. Namun sebenarnya bila kita mengukur apapun, termasuk pendidikan, ukuran keunggulan yang sesungguhnya adalah kualitas, bukan kuantitas. Jika kita hanya copy-paste ilmu pengetahuan dan teknologi dari negara atau pengajar lain, tidak mungkin kita bisa unggul dibanding negara atau pengajar asalnya.

Fakta yang ada adalah berdasarkan data dalam Education for All (EFA) Global Monitroring Report 2011 yang dikeluarkan UNESCO dan diluncurkan di New York pada Senin, 1/3/2011, indeks pembangunan pendidikan Indonesia berada pada urutan 69 dari 127 negara yang disurvei (Kompas, 3 Maret 2011). Lembaga yang selalu memonitor perkembangkan pendidikan di berbagai negara di dunia setiap tahun itu menempatkan kualitas pendidikan Indonesia masih lebih baik daripada Filipina, Kamboja, dan Laos. Tetapi apa artinya dengan membandingkannya dengan tiga negara yang memang selama ini peringkatnya tidak pernah berada di atas Indoenesia, kecuali Filipina yang dalam beberapa hal lebih baik. Sementara Jepang berada pada urutan pertama sebagai bangsa dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia.

Kita juga bisa melihat seberapa besar sebenarnya tingkat kepedulian masyarakat Indonesia sendiri terhadap dunia pendidikan. Indonesia sudah meluluskan ribuan sarjana (S1) tiap tahunnya. Tapi apakah hal itu sudah cukup? Bila kita teliti lagi berapa banyak dari ribuan lulusan sarjana tersebut yang melanjutkan ke jenjang S2 dan S3? Bila ingin lebih spesifik lagi, berapa banyak dari lulusan S3 yang lulus dengan nilai disertasi summa cum laude yang artinya dia telah menghasilkan teori atau sistem ilmu pengetahuan baru? Sekali lagi mungkin memang (kuantitas) gelar itu penting, tetapi (kualitas) hasil penemuan jauh lebih penting karena gelar berkenaan dengan kehormatan, sedang hasil berkenaan dengan penghargaan. Karena pendidikan sendiri bukan sekadar upaya atau sarana orang mencari pekerjaan, melainkan sebuah proses pendewasaan diri untuk bisa hidup bermartabat. Karena merupakan proses pendewasaan diri, maka pendidikan tidak akan pernah berakhir, sekalipun yang bersangkutan telah mapan secara material dalam hidupnya. Dengan demikian, pendidikan bukan alat (means ) melainkan tujuan (ends). Serbagian besar masyarakat kita menganggap pendidikan merupakan alat atau sarana mencapai tujuan, sehingga begitu tujuan diraih, maka berakhir pula kegiatan pendidikan tersebut.

Selain meluruskan tujuan dan niat pendidikan, tugas kita semua juga untuk menyadarkan bahwa pendidikan merupakan kegiatan kolektif yang melibatkan banyak unsur, mulai siswa itu sendiri, masyarakat, orang tua, pendidik, sarana dan prasarana, manajemen, biaya pendidikan, proses belajar mengajar, hingga campur tangan pemerintah. Belajar dari negara-negara yang sudah maju, kita bisa mengambil pelajaran berharga betapa pendidikan merupakan hajat semua orang. Karena itu, maju dan mundurnya pendidikan merupakan tanggung jawab semua orang.

(diambil dari berbagai sumber)

Categories: The reflections | 4 Comments

Post navigation

4 thoughts on “Ketika Kualitas Pendidikan Indonesia Dipertanyakan

  1. Mba, bangsa kita hidup di daerah tropis, yang berarti hidup di zona aman, budayanya tidak lepas dari kata malas, santai, berleha-leha, dan tidak kritis. Menurut saya sangat wajar jika Indonesia tidak bisa mengungguli negara lain karena berbeda daerahnya. Coba bayangkan negara Jepang yang selalu diguncang bencana gempa maupun tsunami di periode waktunya yang sangat pendek. Menurut saya otomatis bangsa Jepang selalu belajar untuk menanggulangi bencana tersebut. Dan mereka pun tidak bisa diam begitu saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, karena mereka tidak mempunyai sumber daya alam. Sedangkan bangsa Indonesia terlalu banyak sumber daya alamnya sehingga mereka merasa tidak perlu bekerja lebih giat karena sangat mudah untuk memerlukan kebutuhan hidupnya dari sumber daya alam yang melimpah. Menurut saya disitulah inti permasalahannya mengapa bangsa kita masih “kurang cukup pintar” bersaing dengan bangsa lain. Hanya Allah SWT yang bisa membalikkan takdir ini. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Saya juga berharap semoga bangsa Indonesia bisa lebih peduli terhadap kekayaan alam yang melimpah di Indonesia, dan dimanfaatkan dengan baik untuk kebutuhan nasional. Harusnya dunia pendidikan berpacu pada sumber daya alam yang digunakan kelak untuk anak cucu bangsa. Percuma saja Presiden Soekarno sudah berjuang menguasai daerah dari Sabang sampai Merauke, tetapi tidak dijaga dan dilestarikan dengan baik. Banyaknya perusahaan asing yang berdiri di wilayah Indonesia merupakan salah satu contoh kegagalan dari sistem pendidikan di Indonesia ini.

    • Mnrut sya krn itulah sistem yg tepat harusny bisa membuat indonesia lbh baik. Mengubah paradigma & kebiasaan itu susah maka dri itu harus ada suatu paksaan yakni melalui sistem itu sendiri. Sayangnya pemerintah dlm mengelola SDA trlalu bnyk melibatkan persh.asing dan tdk mengikutsertakan msyrkt pribumi. Pemisahan SDA dg msyrkt inilah yg brujung pada kemiskinan. Sehingga muncul istilah indonesia kaya tapi miskin. Maka dari itu kita perlu memperbaiki kualitas SDM di Indonesia utk Indonesia lebih baik.

  2. shibyantomo ua

    sebagaimana proses pertumbuhan individu yang melewati tiap tahapnya dengan perjuangan menjadi lebih baik, saat ini perkembangan pendidikan memasuki tahap baru dimana pemimpin dan pemuda-pemudi menjadi motor penggerak majunya harkat dan martabat masyarakat. Semoga sebagai generasi muda kita mampu berbuat lebih baik dari para pendahulu kita, sudah pernah coba publikasikan ide ini di jawa pos kah ? Tema dan bahasa penulisan kamu sangat menarik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: